Hari
beranjak sore, tapi kedua sahabat itu belum juga kembali ke kamar kos mereka.
Tak lama kemudian seorang yang tinggi, rambuk cepak turun dari bus. Disusul oleh
temannya yang tinggil, kurus, rambut acak-acakan, keduanya berjalan menuju
kamar kos yang berada di lantai 2. Keduanya tergeletak ditempat tidur sambil
menunggu antri kamar mandi. Adzan magrib terdengar suasana kos kembali sepi,
karena seluruh penghuni kos sholat di masjid depan kos mereka. Kecuali Muhammad
fakhrurozi, yang sering dipanggil Ozi, ia tertidur karena terlalu lelah.
Setengah jam kemudian Nur Fajar, yang sering dipanggil Fajar, membangunkan
temannya untuk sholat.
Malampun
tiba, penguhi kos mulai kelaparan ada yang makan diluar ada juga yang masak mie
didapur. Begitu juga kedua sahabat itu mereka berdua berbeda selera makannya,
Ozi makan di warung pecel lele sekitar kos, berbeda dengan Fajar yang tidur
untuk mengirit katongnya. Keduanya sudah menjadi teman akrab sejak maasih di
SMA dari kelas X sampai XII satu kelas bahkan satu bangku. Tapi untuk urusan
perut mereka memang berbeda Ozi dari kalangan menengah keatas, sedang Fajar
menengah kebawah anjlok. Dulu Fajar tinggal dipanti asuhan karena sejak orang
tuanya berpisah ia ikut ibunya, lalu setahun orang tuanya berpisah ibunya
meninggal. Setelah itu ia dimasukkan kepanti asuhan, dan mendapat beasiswa
untuk ke perguruan tinggi negeri.
Dikamar,
mereka tidak berdua saja adalah jono dan
anto berada dikamar hanya untuk tidur malam. “ Zi, besok laptopmu kupinjam boleh? ” sentak
Fajar tiba –tiba.“ Boleh-boleh aja, 2000 per jam” sahut Ozi sambil tersenyum.
“bercanda ambil aja sendiri” sambungnya.
Esoknya,
seorang tinggi kurus itu ber teriak, untuk mendapat sebuah inspirasi membuat
cerpen untuk lomba yang berhadiah 10 juta. “Ya Alloh, berilah hambamu ini
sebuah inspirasi !” teriaknya membangunkan tidur sahabatnya. “Jar, bisa lebih
keras!”dengan mata merem melek sehabis bangun nyambung (kebiasaan tidur sehabis
subuh). “aaaaaaaaaaaaaaaa!” teriaknya di telinga Ozi. Pagi yang buruk untuk Ozi
yang tidurnya terganggu. Berbeda dengan Jono dan Anto pagi-pagi seperti itu
keduanya sudah bersiap berangkat kuliah.
Paginya
sebelum Jono dan Anto berangkat sebuah ajakan memecah keheningan didalam kamar
berukuran 4x3 meter itu. “Jar ngomong-ngomong soal inspirasi, gimana kalo sabtu
besok kita kepuncak?” ajak Ozi. “boleh juga tuh, Jon,To gimana mau ikut?”
“boleh tuh sekalian refreshing” jawab Anto. Ozi selalu melihat wajah sahabatnya
yang pucat dan badannya yang semakin hari semakin kurus saja. Itu juga salah
satu alasan mengajak sahabatnya kepuncak, karena setiap kali ditanya tentang
masalahnya Fajar selalu mengalihkan perhatian ke topik pembicaraan lain.
Saat
berangkat Ozi menemukan sebuah catatan kecil milik sahabatnya di bawah bantal,
saat akan membacanya Fajar berkata “baiknya tuh catatan balikin lagi”. Seketika
Ozi bertanya kepada dirinya mengapa Fajar menjadi berubah. Ozi menjadi
penasaran tenteng sahabat SMAnya itu, dan hari demi hari mukanya pucat,
badannya smakin kurus.
Sabtu
yang cerah keempat orang ini berangkat pagi-pagi agar bisa melihat cahaya
fajar. Dengan dua sepeda motor, mereka berangkat. Sampai disana cahaya fajar
sudah lewat, “jangan angap rumah sendiri yaa” sebuah ucapan terlontar untuk
memecah keheningan dan mereka semuapun tertawa. “mungkin kita akan melihat
fajar besok pagi” sambungnya. “kenapa harus besok, sekarang didepanmu fajar
bukan?” mereka berempat tertawa ,mungkin menjadi kata terakhir yang diucapkan
Fajar.
Benar
saja esok paginya, Ozi membangunkan temannya untuk jalan-jalan mencari masjid
menemukan Fajar sudah tak bernyawa di tempat tidurnya. Dibukanya catatan kecil
itu, seakan Fajar berkata “Zi, kamu benar ingin tahu masalaluku?” “baiklah akan
ku ceritakan, dulu waktu umurku 4 tahun orang tuaku kecelakaan, aku menyalahkan
diriku atas kecelakaan itu andai saja waktu itu aku tidak memaksa mereka
membelikan sepatu pasti sekarang masih hidup bersamaku”.
Disamping
catatan sebuah cerpen yang sudah siap untuk dikirim. Sebulan setelah pengiriman
cerpen, pengumuman tiba tak disangka cerpen Fajar menang dan menurut isi
catatan Fajar jika ia menang uang itu diserahkan ke panti asuhan. Tepat bagian
belakang catatan itu yang belum terbaca oleh Ozi “terima kasih teman, you are
the best for me”.