Minggu, 21 Oktober 2012

Fajar yang Redup


Hari beranjak sore, tapi kedua sahabat itu belum juga kembali ke kamar kos mereka. Tak lama kemudian seorang yang tinggi, rambuk cepak turun dari bus. Disusul oleh temannya yang tinggil, kurus, rambut acak-acakan, keduanya berjalan menuju kamar kos yang berada di lantai 2. Keduanya tergeletak ditempat tidur sambil menunggu antri kamar mandi. Adzan magrib terdengar suasana kos kembali sepi, karena seluruh penghuni kos sholat di masjid depan kos mereka. Kecuali Muhammad fakhrurozi, yang sering dipanggil Ozi, ia tertidur karena terlalu lelah. Setengah jam kemudian Nur Fajar, yang sering dipanggil Fajar, membangunkan temannya untuk sholat.
Malampun tiba, penguhi kos mulai kelaparan ada yang makan diluar ada juga yang masak mie didapur. Begitu juga kedua sahabat itu mereka berdua berbeda selera makannya, Ozi makan di warung pecel lele sekitar kos, berbeda dengan Fajar yang tidur untuk mengirit katongnya. Keduanya sudah menjadi teman akrab sejak maasih di SMA dari kelas X sampai XII satu kelas bahkan satu bangku. Tapi untuk urusan perut mereka memang berbeda Ozi dari kalangan menengah keatas, sedang Fajar menengah kebawah anjlok. Dulu Fajar tinggal dipanti asuhan karena sejak orang tuanya berpisah ia ikut ibunya, lalu setahun orang tuanya berpisah ibunya meninggal. Setelah itu ia dimasukkan kepanti asuhan, dan mendapat beasiswa untuk ke perguruan tinggi negeri.
Dikamar, mereka  tidak berdua saja adalah jono dan anto berada dikamar hanya untuk tidur malam.  “ Zi, besok laptopmu kupinjam boleh? ” sentak Fajar tiba –tiba.“ Boleh-boleh aja, 2000 per jam” sahut Ozi sambil tersenyum. “bercanda ambil aja sendiri” sambungnya.
Esoknya, seorang tinggi kurus itu ber teriak, untuk mendapat sebuah inspirasi membuat cerpen untuk lomba yang berhadiah 10 juta. “Ya Alloh, berilah hambamu ini sebuah inspirasi !” teriaknya membangunkan tidur sahabatnya. “Jar, bisa lebih keras!”dengan mata merem melek sehabis bangun nyambung (kebiasaan tidur sehabis subuh). “aaaaaaaaaaaaaaaa!” teriaknya di telinga Ozi. Pagi yang buruk untuk Ozi yang tidurnya terganggu. Berbeda dengan Jono dan Anto pagi-pagi seperti itu keduanya sudah bersiap berangkat kuliah.
Paginya sebelum Jono dan Anto berangkat sebuah ajakan memecah keheningan didalam kamar berukuran 4x3 meter itu. “Jar ngomong-ngomong soal inspirasi, gimana kalo sabtu besok kita kepuncak?” ajak Ozi. “boleh juga tuh, Jon,To gimana mau ikut?” “boleh tuh sekalian refreshing” jawab Anto. Ozi selalu melihat wajah sahabatnya yang pucat dan badannya yang semakin hari semakin kurus saja. Itu juga salah satu alasan mengajak sahabatnya kepuncak, karena setiap kali ditanya tentang masalahnya Fajar selalu mengalihkan perhatian ke topik pembicaraan lain.
Saat berangkat Ozi menemukan sebuah catatan kecil milik sahabatnya di bawah bantal, saat akan membacanya Fajar berkata “baiknya tuh catatan balikin lagi”. Seketika Ozi bertanya kepada dirinya mengapa Fajar menjadi berubah. Ozi menjadi penasaran tenteng sahabat SMAnya itu, dan hari demi hari mukanya pucat, badannya smakin kurus.
Sabtu yang cerah keempat orang ini berangkat pagi-pagi agar bisa melihat cahaya fajar. Dengan dua sepeda motor, mereka berangkat. Sampai disana cahaya fajar sudah lewat, “jangan angap rumah sendiri yaa” sebuah ucapan terlontar untuk memecah keheningan dan mereka semuapun tertawa. “mungkin kita akan melihat fajar besok pagi” sambungnya. “kenapa harus besok, sekarang didepanmu fajar bukan?” mereka berempat tertawa ,mungkin menjadi kata terakhir yang diucapkan Fajar.
Benar saja esok paginya, Ozi membangunkan temannya untuk jalan-jalan mencari masjid menemukan Fajar sudah tak bernyawa di tempat tidurnya. Dibukanya catatan kecil itu, seakan Fajar berkata “Zi, kamu benar ingin tahu masalaluku?” “baiklah akan ku ceritakan, dulu waktu umurku 4 tahun orang tuaku kecelakaan, aku menyalahkan diriku atas kecelakaan itu andai saja waktu itu aku tidak memaksa mereka membelikan sepatu pasti sekarang masih hidup bersamaku”.
Disamping catatan sebuah cerpen yang sudah siap untuk dikirim. Sebulan setelah pengiriman cerpen, pengumuman tiba tak disangka cerpen Fajar menang dan menurut isi catatan Fajar jika ia menang uang itu diserahkan ke panti asuhan. Tepat bagian belakang catatan itu yang belum terbaca oleh Ozi “terima kasih teman, you are the best for me”.

Jumat, 21 September 2012

Kecil Tapi Berguna


Assalamu’alaikum Warohmatullohi wa Barokatuh
Menjawab salam hukumnya wajib jika yang mengucapkan salam itu saudara seiman kita teman. Kita akan mendengarkan percakapan sebuah uang seratus ribu dengan uang seribu jika keduanya dapat berbicara. Kedua uang tersebut sama-sama di cetak oleh bank indonesia. Apa yang membedakan kedua uang tersebut setelah duanya keluar menyebar dan akhirnya ber temu lagi dalam satu dompet. Simak isinya berikut ini:
Seratus :”hai seribu kita bertemu lagi!”
Seribu   :”hai, bagaimana perjalananmu setelah keluar dari bank ?” (Tanya seribu).
Seratus :”setelah keluar dari bank aku di bawa oleh wanita-wanita cantik lalu ditata rapi sekali bersama jenisku lainnya, kamu sendiri mengapa kamu lusuh, kotor, bau lagi ?(balas seratus ribu).
Seribu   :”aku...? , aku pergi kepasar ikan lalu dibawa oleh anak kecil dimasukkan kedalam katong dengan di untel-untel”.
Seratus :”ckckckck, aku saja setiap dibawa dalam dompet dengan rapinya kadang-kadang selama 1 minggu tidak keluar dari dompet”.
Seribu   :”tapi apakah kamu pernah masuk kemasjid ?, didalam masjid banyak sekali orang-orang yang menganggapku itu penting.”
menangislah si seratus ribu karena ia belum pernah 1x pun masuk kemasjid. Teman itulah sebuah permisalan dimana ada percakapan antara dua uang. Kesimpulannya belum tentu besar itu baik sementara kecil itu bisa berguna lebih dari yang kita bayangkan. Mampu menolong kita saat kita dihisab amal kita kelak....